Laman

Cari Blog Ini

Rabu, 30 September 2009

Untuk Perempuan

Tulisan ini didedikasikan untuk sahabat yang membawa inspirasi dan memenuhi hari-hari ku dengan ceria. Khusus untuk yang memiliki catatan inspiratif di facebook: comment itu bukan untuk dirimu, tapi untuk kutipannya, Temanku Sayang...


Sehari yang lalu aku membaca catatan teman di facebook. Tanpa ku sadari, catatan yang sebenarnya tidak ditujukan untukku itu, terus kubaca. Tapi tulisannya begitu menarik..sampai-sampai mendorong diriku untuk mengomentarinya. Begini tulisannya...

"Heterosexual relationships seem to lead only to marriage, and for most poor dumb brainwashed women marriage is the climactic experience. For men, marriage is a matter of efficient logistics: the male gets his food, bed, laundry, TV, pussy, offspring and creature comforts all under one roof, where he doesn't have to dissipate his psychic energy thinking about them too much -- then he is free to go out and fight the battles of life, which is what existence is all about. But for a woman, marriage is surrender. Marriage is when a girl gives up the fight, walks off the battlefield and from then on leaves the truly interesting and significant action to her husband, who has bargained to 'take care' of her. What a sad bum deal."
Menarik ya! Apalagi membayangkan wajah teman ku yang satu itu. Memang bukan teman dekat, tapi benar-benar tergelitik. Aku kan juga sedang memikirkan tentang pernikahan. Mph!

Aku, mungkin sama dengan kebanyakan perempuan-pada-umumnya...berharap bertemu dengan dia yang begini, begitu dan bersatu dalam pernikahan. Pernikahan adalah aku bersama dia mewujudkan cita-cita dalam hidup kami. Pernikahan juga yang kelak membuat beban dan kesenangan dalam hidupku harus dibagi dengan orang lain. Ini ideal bukan realitas.

Kutipan tadi begitu...straight and absurd, menurutku. Benarkah pernikahan "merugikan" kita perempuan? Benarkah laki-laki yang selalu mendapat kepuasan dan kehormatan? Lalu perempuan adalah lagi-lagi kalangan marjinal? Diskusi ini tidak akan ada habisnya.


Tapi, menjawab pertanyaan: Kapan kamu akan menikah? Kapan mau ngundang? Kapan ... Kapan ... ? I'm not a smart girl, who know what and when the best. Yet,

Sayang, jika satu-satunya, setahu-ku, institusi yang melindungi hubungan perempuan dan laki-laki (heterosexual relationship) itu justru dianggap sesuatu yang "menghancurkan" masa depan perempuan. Sementara masih di belahan bumi yang sama, perempuan-perempuan tidak menikah dan menganggap dapat menjadi sama bahkan lebih puas daripada laki-laki tanpa menikah... Kepuasan yang dimaksud--sayangnya lagi, seringkali diartikan--hanya sebatas nafsu hewani. Urung menikah lantaran takut merugi. Menghalalkan yang haram karena dorongan naluri.

Ini memang bukan kisahku, tapi seorang teman dekat. Perempuan bekerja dengan profil karier idaman. Mendadak gelisah dan gundah setiap hari. Ternyata dia hamil diluar nikah dan ditinggalkan laki-laki tak bertanggung jawab. Ia memutuskan aborsi agar tidak ditinggal pacar. Bukan itu yang menarik. Karena kisahnya cuman klise. Tapi komentar teman curhatnya yang luar biasa bagiku...

"Bego, loe! Kenapa dimasukin (sp*rm*)?"

Ternyata itulah wajah perempuan-perempuan di dekatku. Begitu cantik..begitu berpendidikan tinggi..begitu berwawasan..begitu malang.. Mereka punya pilihan sendiri dalam hidup, sebagaimana kamu dan aku.

Mungkin kita hanya khawatir dengan tahap dalam hidup yang belum pernah kita lalui itu. Tapi semoga kita bukan sedang alergi dan berharap tidak akan melewatinya. Memang tidak semua orang yang setuju dengan kutipan tadi dari catatan facebook temanku, akan bertindak sembrono dengan "mengumbar" dirinya. Tapi catatan tadi benar-benar membuatku teringat kisah perempuan "sukses" yang menghancurkan dirinya sendiri. Begitu dekat, begitu nyata. Lebih baik berpikir optimis tentang pernikahan yang memang sesuai dengan fitrah manusia daripada berpikir pendek.

Aku hanya sedikit berharap agar teman-temanku, termasuk diriku yang masih menunggu saat yang tepat untuk menikah itu, tidak khawatir dengan masa depan kami perempuan sesudah menikah. Kami adalah perempuan yang menentukan nasib kami sendiri sebagaimana manusia lain di bumi ini. Lalu kami saling mendoakan bahwa kami akan mendapatkan laki-laki yang baik sebagai pendamping hidup kami untuk melahirkan generasi yang lebih beradab. Lalu generasi baru itu akan bercerita bahwa kami adalah perempuan-perempuan yang telah membuat mereka begitu beradab. Kami tidak akan menjadi serendah perempuan-perempuan yang pintar itu.

5 komentar:

  1. Sepertinya, telah menimbulkan kesalahpahaman berkepanjangan. Di hari tutup buku ini, aku jadi tambah sakit perut.
    Tetap tersenyum, dan berhuznuzhon.
    Maaf ya buat yang tersakit hatinya. Sungguh tak bermaksud.
    Peace buat semuanya...!

    BalasHapus
  2. hm, tau ga, kak...
    buku yang mau kupinjamin ke kak Meidhi tuh berkaitan juga sama yang begini-an.. huhu.. koq jadi nyambung yaa.. padahal, sebelum aku nawarin buku tea for two ke kak Meidhi, aku ga tau loh soal note fesbuk ini.. hihi..

    hm, i can imagine how.. hm.. pernikahan butuh sejuta alasan, ga cuma cinta... karena kalau cinta, itu tipisssss sama nafsu...

    tapi, jangan sampai nodai pernikahan,.. seperti yang marak: nikah 5 bulan, trus cerai.. mang pacaran... wkwkw.. *melirik ke kak Meidhi, tau ga siapa???? hihihihi ;p gossipp ajah yah.. udah ahh..*

    iseng-iseng nulis.. maaf yaa... salam...

    BalasHapus
  3. Yoe... gosip lagi? Bikin heboh ajah!

    BalasHapus
  4. Perempuan punya hak untuk memilih, sebagaimana juga perempuan punya hak ketika sudah terikat pernikahan, perempuan punya hak untuk dihargai jiwanya, dihormati keberadaannya,.. perempuan, sungguh tinggi Al-Qur'an menempatkan perempuan, sesungguhnya...
    Hanya yang betul2 "Qowwam" yang bisa memperlakukan perempuan muslimah, sebagaimana seharusnya...

    "perempuan yang baik hanya untu laki-laki yang baik" :-)

    Hope u'll reach ur happiness, blessed by Allah, amiinnn...

    BalasHapus
  5. Terimakasih ummi moenk sudah mampir. Tausiyah nya sungguh bermanfaat. Semoga saya juga "memahami" kata qawwam itu dengan baik.

    BalasHapus