Laman

Cari Blog Ini

Rabu, 03 Juni 2009

Teater Koma: My favourite live show

Pertama kali mendengar teater koma waktu masih SD. Tanpa sengaja membaca liputan lakon "Sampek Engtay" di koran bekas. Wuih, menarik banget. Harus, kudu, wajib aku menontonnya suatu hari nanti. Alhamdulillah hari yang dinantikan tiba, sekitar tahun 2000 awal. Pentasnya dekat rumah, di TMII. Tapi mama gak mengizinkan. Untuk ukuran jajan anak SMA, harga tiketnya terlalu mahal. Bisa buat nonton bioskop berkali-kali. Walhasil, aku perlu mencucurkan air mata dulu, baru dibeliin tiket. Kekanak2an ya. Tapi tidak ada penyesalan sesudahnya. It's trully an astonishing live show. Plus dibawakan di teater modern seperti teater tanah air TMII. You won't regret it! Kisah romantis klasik china yang dibawakan penuh komedi. Bahkan aku mau berulang kali nonton lagi. Karena ini live show--bukan seperti sinetron atau film di bioskop--selalu ada yg beda.

Berhubung cerita klasik, jadi semua sudah tau alur ceritanya. Itu lho...kisah anak perempuan yang menyamar sebagai laki-laki agar bisa bersekolah. Akhirnya, dia jatuh cinta dengan teman sekelasnya dan terpaksa membongkar penyamaran. Sayang cinta mereka tanpa restu orangtua, jadi... bisa ditebaklah it's a sad-ending story. Bisa dibilang Romeo and Juliet versi China.

Bagi saya, pemain teater koma luar biasa berbakat. Belum lagi penyusun naskah dan sutradaranya. Luar biasa pementasannya. Berhubung di Indonesia, teater belum menjadi industri, hampir segala pernak-pernik teater dibuat oleh pemain sendiri. Luar biasa kalau melihat dekor, tata rias serta konstum pemain. Mph...

Sayangnya, nonton teater itu pasti malam hari. Rata-rata mulai jam delapan baru selesai tengah malam. Kalau anak gadis dilarang nonton sendirian, ya. Apalagi sampai pulang sendirian. Bahaya itu.

Teater Koma, jangan sampai titik ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar