Laman

Cari Blog Ini

Selasa, 16 Juni 2009

Jakarta: Another City that Never Sleep

Salah satu film favorit saya: Sleepless in Seatle. Disebut sleepless karena siaran radio nya on terus 24 jam. Gimana dengan Jakarta, ibukota Indonesia, kota terpadat ke-21 di dunia?

Udah lazim bagi kita yang lahir dan besar di Jakarta bahwa sebagai ibukota, kota ini benar-benar hidup. Siang maupun malam. Maklum, sedang membangun diri. Lantas tidak juga berarti manusianya ikut dibangun. Tidak jadi pemandangan aneh, dari kawasan Thamrin trus belok ke Sudirman memutar sedikit ke arah Manggarai hingga sampai di pinggiran Ciliwung sekitar Jatinegara. Kalau kamu tahu semua daerah itu, terbayang peralihan pemadangan "main street" sampai bantaran kali. Atau dari Thamrin langsung ke arah tanah abang dan masuk ke gang-gang sempit MHT. Nama jalan itu sama kan... tapi nyata bedanya.

Dua tiga minggu yang lalu, seperti biasa aku pulang dengan kereta ekspress jurusan Sudirman-Bekasi. Meski namanya ekspress, jalannya bisa tersendat-sendat akibat sistem transportasi yang belum juga ajeg. Sore itu tidak jauh berbeda. Menjelang pukul enam. Di pusat kota, orang berjejal naik apa saja untuk sampai ke rumah. Kecuali mereka yang punya kelebihan, naik mobil pribadi. Mataku tertuju pada pemandangan di pinggiran Ciliwung, sekitar Halimun. Kereta mendadak berhenti. Sepanjang pinggir rel, laki-laki dan perempuan seperti sedang bersiap-siap, sibuk begini begitu. Mau apa ya sore-sore begini.

Pandanganku sekarang terfokus pada satu buah petak yang sedang dikerjakan oleh dua laki-laki. Petakan itu dibuat dari potongan kayu bekas, seperti pondasi rumah-rumahan. Di sekitarnya ada papan-papan bekas yang akan jadi dindingnya. Di pojokan ada kaleng cat besar yang digunakan sebagai wadah air. Aku pikir ini MCK umum untuk 'rakyat miskin kota'. Tapi kemudian, laki-laki yang satu menggelar kasur tipis dan menambahkan dua bantal diatasnya. Kasihan juga pikirku, nasib rakyat miskin kota yang harus tidur di pinggir rel. Kenapa tidak pilih di kolong saja yang sepi.

Pandanganku seperti dibelokkan. Aku mulai melihat kerumunan lain yang ada di sekitarnya. Perempuan-perempuan yang tidak begitu cantik apalagi terbilang seksi. Tapi mereka seperti akan jadi pemeran utama dalam suatu lakon. Berhias dan berpakaian menggoda. Meski ada kesan dipaksakan dan pas-pasan. Mereka sedang menunggu giliran.. pekerjaan harian mereka.

Aku yang besar di Jakarta dan lazim dengan semua cerita kejamnya "Ibu Tiri Indonesia" ini mendadak trenyuh. Bukan karena baru melihat pemandangan malam Jakarta. Bukan hal baru soal penjaja malam itu dan kehidupan malam lainnya. Aku sudah melihatnya di pinggiran Jatinegara setiap pulang malam waktu masih kuliah. Atau mobil-mobil balap yang tanding di jalan tol dekat Senayan menjelang tengah malam. Atau warung dangdut remang-remang di kolong jembatan dekat gedung kantor. Hanya sekali lagi aku sadari : Kota ini benar-benar hidup di setiap petak lahannya setiap detiknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar